Inilah Dia Kisah Tsabit bin Ibrahim Seorang Pria Yang Saleh Dan Jujur

Assalamu'alaikum Wr Wb Sahabat Islam. Apa kabar semuanya? Semoga kita selalu diberi karunia kesehatan yang panjang karena kita tahu itu nikmatnya sehat untuk kehidupan, Amin. Iya sahabat islam pada kesempatan ini saya masih diberi waktu tentunya untuk menyampaikan ilmu yang sekiranya dapat berguna kelak nanti. Saya akan menceritakan tentang seorang pria yang saleh dan jujur, langsung saja kita meluncur ke kisah tersebut ya.


Awal kisah ini terjadi pada zaman dahulu yang dimana pada saat itu ada seorang pria yang saleh,jujur,bijaksana dan penyabar Tsabit bin Ibrahim namanya, yang sedang melakukan perjalanan di kota Kufah. Di saat ia melintasi sebuah kebun, ia melihat adanya pohon apel yang sangat besar dan sedang berbuah sangat lebat sehingga saking besarnya pohon itu sampai dahannya yang penuh buah itu menjulur hingga keluar pagar. Saat itu pula munculnya niatan oleh Tsabit untuk memetik apel itu karena kondisi dia yang sangat lapar dan haus, Namun niat itu dia urungkan karena memang pohon itu juga bukanlah miliknya dan jikalau ia mengambil apel itu tanpa seizin sang pemilik sama saja itu mencuri.

Pada saat ia akan melanjutkan perjalanannya itu, ia secara tak sengaja melihat sebuah apel yang jatuh tergeletak di jalan. Dikarenakan apel itu sudah jatuh dari pohon, ia lalu berpikir mungkin akan halan juga baginya untuk memakan apel tersebut.
Disaat ia baru saja memakan separuh dari apel itu, ia tersadar bahwa memang apel itu bukan miliknya. Walaupun sampai tergeletak dijalanan namun yang pasti memang apel itu juga berasal dari pohon yang ada dalam kebun milik orang itu. Lalu ia pun langsung mencari siapa pemilik kebun apel itu.

Pada saat ia melihat seorang pria yang ada didalam kebun, ia pun langsung menghampiri pria tersebut dan ia pun bertanya," Apakah engkau pemilik kebun yang luas ini? Saya telah memakan apel ini separuh karena saya kelaparan tadi, untuk itu saya mau meminta maaf dan ini masih ada sisa separuh apel lagi. Sudilah sekiranya engkau merelakan apel ini agal menjadi halal bila aku makan" Pinta Tsabit.
Namun ternyata pria yang ditemui ia itu bukanlah pemilik kebun itu, ia hanya seorang penjaga kebun sementara sedangkan majikannya itu tinggal di sebuah tempat yang cukup jauh dari kebun tersebut.
"Butuh waktu yang lama untuk sampai ke rumah majikanku. Perjalanannya pun tidak mudah. Mengapa tidak kaumakan saja apel itu? Toh, ia adalah saudagar kaya dan tidak akan mempermasalahkan sebuah apel itu karena hasil kebunnya begitu melimpah ruah." usul si penjaga kebun.

Ia berkata dalam hati "Berapapun jauh rumahnya, aku harus sampai di sana dan meskipun aku harus melewati berbagai rintangan apapun. Separuh apel ini sudah aku telan, artinya di dalam tubuh ini terdapat makanan yang tidak halal bagiku karena belum meminta izin pemiliknya. Bukankah Rasulullah saw. bersabda, "Setiap daging yang tumbuh dari makanan haram maka api nerakalah yang layak baginya" kata Tsabit bin Ibrahim tegas.

Setelah menempuh perjalanan yang panjang, sampailah Tsabit bin Ibrahim di rumah pemilik apel. Ia mengetuk pintu rumah sambil mengucapkan salam. Seorang lelaki membukakan pintu untuknya.
Setelah bertanya dan mengetahui bahwa lelaki itulah yang memiliki kebun apel, Tsabit pun menyampaikan maksud kedatangannya. "Wahai Tuan, kedatangan saya ke sini untuk meminta keikhlasanmu atas buah apel yang terlanjur aku makan separuh dan ini masih ada separuh lagi sambil menunjukkan sisa apel. Semoga engkau bisa memaafkan kesalahanku ini".

Setelah pemilik kebun mendengar tentang penjelasan Tsabit itu, sang pemilik kebun itu berkata, "Aku akan menghalalkan apel itu untuk kau makan setelah kamu menikahi putriku"
Setelah mendengar perkataan itu Tsabitpun terkejut akansebuah permintaan  itu. Karena Tsabit diharuskan menebus kesalahannya dengan sebuah pernikahan dengan putrinya sang pemilik kebun itu? Belum habis keterkejutan Tsabit, pemilik kebun apel itu melanjutkan, "Putriku bisu, tuli, buta, dan lumpuh. Bagaimana? Apakah kamu menyanggupinya?".

Tsabit bin Ibrahim makin terkejut. Ia diharuskan untuk menikahi putrinya itu yang cacat dan akan mendampinginya seumur hidup hanya gara-gara memakan separuh buah apel. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain. Jika jalan ini dapat membuka pintu ampunan Allah SWT, ia harus menjalaninya dengan ikhlas. Tsabit pun lalu menyanggupinya.

Singkat cerita, pernikahan pun diselenggarakan. Mempelai wanita menanti di dalam rumah saat akad nikah berlangsung. Setelah selesai dilakukan acara akad nikah, Tsabit pun dipersilahkan oleh sang mertua untuk menemui anaknya yang kini telah sah menjadi istrinya tersebut.
Ia mengetuk kamar yang ditunjuk sambil mengucapkan salam. Ketika ia hendak akan membuka pintu kamarnya, terdengarlah sebuah suara wanita menjawab ucapan salamnya.

"Oh, maaf, aku salah kamar!" ujar Tsabit.
"Kau tidak salah. Aku istrimu yang sah!" kata wanita di dalam kamar itu, "Silakan masuk, wahai suamiku!"
Disaat Tsabit masih berdiri tertegun di depan kamarnya, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Dan yang membuka adalah seorang perempuan cantik yang sehat tanpa cacat seperti yang dikatakan mertuanya itu.
Tsabit bertanya kepada wanita yang berdiri di hadapannya itu, "Jika kau benar istriku, ayahmu berkata bahwa kau buta. Tetapi, mengapa kamu bisa melihat?"
"Ayahku itu benar, mataku buta karena aku itu tidak pernah melihat apa saja yang diharamkan Allah," jawab  perempuan anak pemilik kebun tersebut.
"Lalu, mengapa ayahmu mengatakan kamu tuli? Padahal, kau dapat mendengar salamku!" tanya Tsabit kembali.
"Itu juga benar, beliau tahu bahwa aku tidak pernah mau mendengar berita atau cerita yang tidak diridhai Allah." jelas sang istri.
"Kau pun tidak bisu seperti yang dikatakan ayahmu? Apa artinya?"
"Aku ini memang bisu karena aku tidak pernah mengatakan dusta dan segala sesuatu yang digolongkan tercela. Aku ini banyak menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah."
"Dan apa maksud ayahmu mengatakan kau lumpuh?" tanya Tsabit lagi.
"Itu karena aku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang dibenci Allah." Jawab putri pemilik kebun.
Betapa bahagianya untuk Tsabit bahwa ternyata perempuan yang ia nikahi itu adalah sosok wanita salehah juga sempurna fisiknya dan cantik bagaikan bulan purnama di kegelapan malam.

Demikianlah kisah tentang seorang pemuda yang saleh dan jujur. Karena kejujurannya dan rasa takut akan dosa, sehingga harus rela menempuh perjalanan yang jauh untuk mendapatkan izin dari pemilik kebun apel yang dimakannya.

Berkat kejujurannya itu pulalah ia mendapat berkah menikahi istri yang cantik dan saleha pula. Setelah sekian lama pernikahan mereka dikaruniakanlah dengan lahirnya seorang anak yang soleh dan menjadi ulama di daerah tempat tinggal mereka.

Demikianlah kisah singkat seorang pria yang mendapatkan hadiah dari sang pemilik kebun berkat kegigihannya untuk menebus kesalahannya itu. Semoga ada makna setelah anda membaca kisah ini jangan anda malas membaca untuk mendapatkan wawasan yang luas dan juga ada kesan tersendiri kan setelah lumayan lama membaca kisah ini. Mohon dimaafkan jikalau saya menulis dengan banyak kesalahan karena saya juga manusia biasa yang dikaruniakan untuk hidup dan bisa menulis artikel ini.

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel